Sabtu, 30 Mei 2015

klasifikasi korban massal berdasarkan tingkat penanganannya



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Penilaian awal korban cedera kritis akibat cedera multipel merupakan tugas yang menantang, dan tiap menit bisa berarti hidup atau mati. Sistem Pelayanan Tanggap Darurat ditujukan untuk mencegah kematian dini (early) karena trauma yang bisa terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam sejak cedera (kematian segera karena trauma, immediate, terjadi saat trauma. Perawatan kritis, intensif, ditujukan untuk menghambat kematian kemudian, late, karena trauma yang terjadi dalam beberapa hari hingga beberapa minggu setelah trauma).
            Kematian dini diakibatkan gagalnya oksigenasi adekuat pada organ vital (ventilasi tidak adekuat, gangguan oksigenisasi, gangguan sirkulasi, dan perfusi end-organ tidak memadai), cedera SSP masif (mengakibatkan ventilasi yang tidak adekuat dan / atau rusaknya pusat regulasi batang otak), atau keduanya. Cedera penyebab kematian dini mempunyai pola yang dapat diprediksi (mekanisme cedera, usia, sex, bentuk tubuh, atau kondisi lingkungan).  
            Tujuan penilaian awal adalah untuk menstabilkan pasien, mengidentifikasi cedera / kelainan pengancam jiwa dan untuk memulai tindakan sesuai, serta untuk mengatur kecepatan dan efisiensi tindakan definitif atau transfer kefasilitas sesuai.
Setiap bencana selalu menampilkan bahaya dan kesulitannya masing-masing. Bencana adalah setiap keadaan dimana jumlah pasien sakit atau cedera melebihi kemampuan sistem gawat darurat yang tersedia dalam memberikan perawatan adekuat secara cepat dalam usaha meminimalkan kecacadan atau kematian (korban massal), dengan terjadinya gangguan tatanan sosial, sarana, prasarana (Bencana kompleks bila disertai ancaman keamanan). Bencana mungkin disebabkan oleh ulah manusia atau alam.
B.     Rumusan Masalah
a.       Bagaimana klasifikasi dari korban Massal berdasarkan tingkatan penanganannya?
b.      Apa itu striage dalam klasifikasi dari Korban Massal ?
C.    Tujuan Penulisan
a.       Agar pembaca dan mahasiswa Kebidanan mengetahui klasifikasi dari korban massal berdasarkan tingkata penanganannya.
b.      Menambah wawasan mahasiswa dan pembaca dalam mengetahui striage.












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Klasifikasi Korban Massal berdasarkan tingkat penanganannya.
Korban massal dapat diklasifikasikan berdasarkan triage bencana yang merupakan suatu sistem untuk menetapkan prioritas perawatan medis berdasarkan berta ringannya suatu penyakit ataupun tingkat kedaruratannya, agar dapat dilakukan  perawatan medis yang terbaik kepada korban yang sebanyak-banyaknya, di dalam kondisi dimana tenaga medis maupun sumber-sumber materi lainnya serba terbatas.
B.     Pengertian Triage
Triage adalah pengelompokan pasien atau korban berdasarkan kondisi klinis korban, dengan tujuan untuk menentukan prioritas penanganan dan evakuasi korban. Hal ini untuk optimalisasi penggunaan sumber-sumber daya medis yang terbatas saat kejadian dan memastikan sebanyak mungkin korban dapat diselamatkan dalam keadaan korban masal. Triage umumnya dilakukan oleh dokter atau paramedik yang berpengalaman. Kegiatan Triage ini terus dilakukan karena kondisi pasien dapat memburuk, terutama selama evakuasi. Haruslah terus dimonitor sampai tiba di fasilitas medis, juga sebelum dievakuasi untuk penanganan lebih lanjut.
Definisi Triage adalah usaha pemilahan korban sebelum ditangani, berdasarkan tingkat kegawatdaruratan trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penangnanan dan sumber daya yang ada.
C.    Prinsip dari Triage
Prinsip Triase Pada keadaan bencana massal, korban timbul dalam jumlah yang tidak sedikit dengan resiko cedera dan tingkat survive yang beragam. Pertolongan harus disesuaikan dengan sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya. Hal tersebut merupakan dasar dalam memilah korban untuk memberikan perioritas pertolongan.
Pada umumnya penilaian korban dalam triage dapat dilakukan dengan:
·         Menilai tanda vital dan kondisi umum korban
·         Menilai kebutuhan medis
·         Menilai kemungkinan bertahan hidup
·         Menilai bantuan yang memungkinkan
·         Memprioritaskan penanganan definitif
·         Tag Warna
Prinsip-prinsip triage :
“Time Saving is Life Saving (respon time diusahakan sependek mungkin), The Right Patient, to The Right Place at The Right Time serta melakukan yang terbaik untuk jumlah terbanyak” dengan seleksi korban berdasarkan :
·         Ancaman jiwa mematikan dalam hitungan menit
·         Dapat mati dalam hitungan jam
·         Trauma ringan
·         Sudah meninggal
Dari yang hidup dibuat prioritas
Prioritas : penentuan mana yang harus didahulukan mengenai penanganan dan pemindahan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang timbul.
D.    Klasifikasi Triage
·         Prioritas I (prioritas tertinggi) warna merah untuk berat dan biru untuk sangat berat.
Mengancam jiwa atau fungsi vital, perlu resusitasi dan tindakan bedah segera, mempunyai kesempatan hidup yang besar. Penanganan dan pemindahan bersifat segera yaitu gangguan pada jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi. Contohnya sumbatan jalan nafas, tension pneumothorak, syok hemoragik, luka terpotong pada tangan dan kaki, combutio (luka bakar) tingkat II dan III > 25%.
·         Prioritas II (medium) warna kuning. Potensial mengancam nyawa atau fungsi vital bila tidak segera ditangani dalam jangka waktu singkat. Penanganan dan pemindahan bersifat jangan terlambat. Contoh: patah tulang besar, combutio (luka bakar) tingkat II dan III < 25%, trauma thorak/abdomen, laserasi luas, trauma bola mata.
·         Prioritas III (rendah) warna hijau. Perlu penanganan seperti pelayanan biasa, tidak perlu segera. Penanganan dan pemindahan bersifat terakhir. Contoh luka superficial, luka-luka ringan
·         Prioritas 0 warna Hitam. Kemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka sangat parah. Pasien mati atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi. Kategori ini mengacu pada korban – korban dengan trauma atau penyakit yang sangat serius sehingga kecil kemungkinan selamat atau meninggal saat datang (dead on arrival). Dengan adanya keterbatasan sumber-sumber daya medis yang ada, karena parahnya kondisi pasien, beberapa kasus prioritasnya lebih rendah untuk evakuasi atau penanganan. Contoh seperti mati batang otak dan penyakit terminal.
Menurut litaratur lain menyatakan :
Prioritas Warna Kode Kategori Kondisi Penyakit/Luka 1 Merah I Prioritas utama  pengobatan Memerlukan pengobatan dengan segera karena dalam kondisi yang sangat kritis yaitu tersumbatnya jalan napas, dyspnea,  perdarahan, syok, hilang kesadaran. 2 Kuning II Bisa menunggu  pengobatan Pengobatan mereka dapat ditunda untuk  beberapa jam dan tidak akan berpengaruh terhadap nyawanya. Tanda-tanda vital stabil. 3 Hijau III Ringan Mayoritas korban luka yang dapat  berjalan sendiri. Mereka dapat melakukan rawat  jalan. 4 Hitam 0 Meninggal atau tidak dapat diselamatkan Korban sudah meninggal dunia ataupun tanda-tanda kehidupannya terus menghilang.
Sistem klasifikasi menggunakan nomor, huruf atau tanda. Adapun klasifikasinya sebagai berikut :
Prioritas 1 atau Emergensi
·         Pasien dengan kondisi mengancam nyawa, memerlukan evaluasi dan intervensi segera
·         Pasien dibawa ke ruang resusitasi
·         Waktu tunggu 0 (Nol)

Prioritas 2 atau Urgent
·         Pasien dengan penyakit yang akut
·         Mungkin membutuhkan trolley, kursi roda atau jalan kaki
·         Waktu tunggu 30 menit
·         Area Critical care
Prioritas 3 atau Non Urgent
·         pasien yang biasanya dapat berjalan dengan masalah medis yang minimal
·         luka lama
·         kondisi yang timbul sudah lama
·         area ambulatory / ruang P3
Prioritas 0 atau 4 Kasus kematian
·         tidak ada respon pada segala rangsangan
·         tidak ada respirasi spontan
·         tidak ada bukti aktivitas jantung
·         hilangnya respon pupil terhadap cahaya




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Definisi Triage adalah usaha pemilahan korban sebelum ditangani, berdasarkan tingkat kegawatdaruratan trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penangnanan dan sumber daya yang ada.
Klasifikasi korban massal berdasarkan tingkat penanganannya terbagi menjadi 4, dan dikelompokkan ke dalam kategori triase dengan warna merah untuk korban prioritas 1, warna kuning untuk priorits 2, warna hijau untuk  prioritas 3, dan warna hitam untuk prioritas 0.
B.     Saran
Warga Indonesia sebaiknya lebih banyak mendapat informasi mengenai tanggap waspada dan pelatihan pra bencana untuk meningkatkan kesiapan dalam menghadapi kondisi bencana di wilayah negara yang rentan. Dengan adanya peningkatan paparan informasi mengenai tanggap bencana, diharapkan korban-korban yang ditimbulkan dalam bencana dapat diminimalisir, selain itu masyarakat dapat mandiri mengorganisir wilayahnya dan mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kesehatan,  petugas dan sukarelawan bencana.





DAFTAR PUSTAKA

bounding attachment


 
PENDAHULUAN
Bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment (membangun ikatan) jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi. Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan.  Bonding attachment terjadi pada kala IV, dimana diadakan kontak antara ibu-ayah-anak dan berada dalam ikatan kasih.

CARA UNTUK MELAKUKAN BOUNDING ATTACHMENT
Cara untuk melakukan bounding ada bermacam-macam antara lain:
  1. Pemberian ASI ekslusif

Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir, secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.
  1. Rawat gabung
Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan terlindung, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari. Dengan memberikan ASI ekslusif, ibu merasakan kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh orang lain.


3.      Kontak mata
            Beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka,mereka merasa lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan. Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat untuk dapat melihat pada orang tuanya.

  1. Suara
Mendengar dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat penting. orang tua menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang. Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaan sehat. Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan menghibur. Sewaktu orang tua berbicara dengan nada suara tinggi, bayi akan menjadi tenang dan berpaling kearah mereka.
  1. Aroma
Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk mengenali aroma susu ibunya.
  1. Entrainment
Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan. Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyangkan tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki. Entrainment terjadi pada saat anak mulai bicara.
  1. Bioritme
Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif.
  1. Inisiasi Dini
Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu. Ia akan merangkak dan mencari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat melakukan reflek suckling dengan segera.