PERAWATAN METODE
KANGURU UNTUK BAYI BARU LAHIR RENDAH
A.
Pengertian
salah satu cara untuk
mengurangi kesakitan dan kematian BBLR adalah dengan Perawatan Metode Kanguru (
PMK ) atau perawatan bayi lekat yang ditemukan sejak tahun 1983. PMK adalah
perawatan bayi baru lahir dengan melekatkan bayi di dada ibu ( kontak kulit
bayi dan kulit ibu ) sehingga suhu tubuh bayi tetap hangat. Perawatan metode
ini sangat menguntungkan terutama unuk bayi baru lahir rendah.
Gambar Metode Kanguru
Syarat
PMK adalah bayi berat lahir rendah yang stabil ( sudah bernafas spontan dan
tidak memiliki masalah kesehatan serius ). Tanda tanda bayi berat lahir rendah
(BBLR) yang memerlukan PMK adalah sebagai berikut :
1.
Tubuh bayi
dingin ( suhu badan dibawah 36,5 º Celcius ).
2.
Bayi menjadi
gelisah, mudah terangsang, lesu dan tidak sadarkan diri, demam ( suhu ubuh
diatas 37,5 º Celcius ).
3.
Bayi malas
menyusu, tidak minum dengan baik, muntah muntah.
4.
Bayi kejang.
5.
Mengalami
kesulitan bernafas, yaitu napas cepat ( lebih dari 60 kali per menit dan
mengalami berhenti bernafas selama 20 detik.
6.
Diare atau
mencret.
7.
Kulit tampak
kuning atau biru, terutama pada mulut / bibir bayi.
8.
Menunjukkan
gejala lain yang mengkhawatirkan.
B.
Keuntungan dan Manfaat PMK
Keuntungan dan manfaat
PMK adalah suhu tubuh bayi tetap normal, mempercepat pengeluaran air susu ibu (
ASI ) dan meningkatkan keberhasilan menyusui, perlindungan bayi dari infeksi,
berat badan bayi cepat naik, stimulasi dini, kasih sayang, mengurangi biaya
rumah sakit karena waktu perawatan yang pendek, tidak memerlukan inkubator dan
efisiensi tenaga kesehatan.
C.
Perawatan Metode Kanguru
Perawatan Metode Kanguru dibagi menjadi dua :
1.
PMK intermiten,
yaitu PMK dengan jangka waktu yang pendek ( Perlekatan lebih dari satu jam per
hari ) dilakukan saat ibu berkunjung. PMK ini diperuntukkan bagi bayi dalam
proses penyembuhan yang masih memerlukan pengobatan medis ( infus, oksigen ).
Tujuan PMK intermiten adalah untuk perlindungan bayi dari infeksi.
2.
PMK kontinu,
yaitu PMK dengan jangka waktu yang lebih lama dari pada PMK intermiten. Pada
metode ini perawatan bayi dilakukan selama 24 jam sehari.
D.
Tahap Tahap PMK
Tahap Tahap PMK adalah sebagai berikut :
1.
Cuci tangan,
keringkan dan gunakan gel hand rub.
2.
Ukur suhu bayi
dengan termometer.
3.
Pakaikan baju
kanguru pada ibu.
4.
Bayi dimasukkan
dalam posisi kanguru, menggunakan topi, popok dan kaus kaki yang telah
dihangatkan lebih dahulu.
5.
Letakkan bayi di
dada ibu, dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan pastikan kepala bayi
sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisika bayi dengan siku dan tungkai siku dan
tungkai tertekuk, kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepal agak
sedikit mendongak.
6.
Dapat pula ibu
memakai baju dengan ukuran besar, dan bayi diletakkan di antara payudara ibu,
baju ditangkupkan, kemudian ibu memakai selendang yang dililitkan di perut ibu
agar bayi tidak jatuh.
7.
Setelah posisi
bayi baik, baju kanguru diikat untuk menyangga bayi. Selanjutnya ibu bayi dapat
beraktifitas seperti biasa sambil membawa ayinya dalam posisi tegak lurus di
dada ibu ( skin to skin contact) seperti kanguru.
MAKANAN BAYI BBLR
A.
AIR SUSU IBU
ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, begitupun bagi
bayi dengan BBLR. Bayi bayi kecil biasanya belum mampu mengisap dengan baik
karena itu pemberian minumnya berupa ASI atau susu formula khusus untuk BBLR
bila ASI ibu belum keluar dilakukan melalui pipa lambung dan diberikan secara
bertahap sampai jumlah kebutuhannya terpenuhi. Yang perlu diperhatikan tentang
aktivitas menyusui pada kasus kasus bayi yang lahir prematur ataupun yang memiliki
berat badan yang rendah adalah kondisi si bayi tersebut, apakah harus
dipisahkan terlebih dahulu oleh ibunya atau tidak.
Bila harus dipisahkan, maka faktor yang penting agar
proses menyusui tersebut berjalan dengan sukses, maka perlu peran kolaborasi
antara tim perawatan neonatal dengan ibu si bayi itu sendiri, yaitu dengan
melalui proses manajemen laktasi.
Ada beberapa manajemen yang perlu dilakukan dalam
kondisi pisahnya antara ibu dan anak, dan ini harus dilakukan bahkan saat
sebelum si ibu melahirkan. Ibu diharapkan memiliki pengetahuan tentang
bagaimana cara memompa ASI yang dilakukan sekitar setiap tiga jam sekali selama
7-5-3 menit dalam posisi bergantian, tiap tetes ASI harus dibawa ke intesive
station, kontak kulit antara si ibu dan anak melalui model kanguru, tidak
diperbolehkannya penggunaan pting buatan, dan lain lain.
Yang harus dicegah pada pemberian minum pada bayi
BBLR adalah kelelahan, regurgitasi, dan aspirasi. Biasanya keadaan tersebut
dapat dicegah bila pemberian minum dilakukan oleh perawatan yang sudah terlatih
dan berpengalaman. Makanan melalui mulut harus dihentikan pada bayi dnegan
gawat nafas, hipoksia, sirkulasi yang tidak memuaskan, sekresi yang berlebihan,
sepsis, depresi susunan saraf pusat, imaturitas atau bayi dengan tanda penyakit
berat. Bayi dengan kondisi demikian memerlukan pengobatan parental untuk
mendapatkan kalori, cairan dan elektrolit.
Perubahan minum dengan botol atau ASI dilakukan
secara bertahap, selanjutnya diberikan sepenuhnya susu botol atau ASI bila bayi
cukup kuat mengisap dan tidak tampak lelah. Pemberian makanan melalui pipa ke
lambung hanya dianjurkan pada bayi BBLR bila kebutuhan kalori melalui botol /
ASI tidak terpenuhi karena daya isap lemah, tidak ada koordinasi antara
mengisap dengan menelan, dan lambatnya pengosongan lambung. Komplikasi
pemberian makanan dengan pipa ke lambung
adalah perforasi usus.
B.
MAKANAN PERTAMA
Prinsip utama pemberian makanan pada bayi premature
adalah sedikit demi sedikit, secara perlahan dan hati hati. Pemberian makanan
ini berupa glukosa, ASI atau PASI akan mengurangi risiko hipoglikemia,
dehidrasi dan hiperbilirubunemia. Bayi dengan sindrom gawat nafas atau penyakit
berat lainnya harus mendapatkan kalori dari pemberian makanan, elektrolit dan
cairan melalui pembuluh darah karena pada keadaan demikian makanan melalui
pembuluh darah karena pada keadaan demikian makanan melalui mulut memudahkan
terjadinya aspirasi. Bayi yang daya isapnya kuat dan tanpa sakit berat dapat
dicoba minum melalui mulut. Umumnya bayi dengan BB kurang dari 1500 gram dan
kebanyakan juga lebih besar memerlukan minum pertama dengan pipa lambung karena
belum adanya koordinasi antara gerakan menghisap dan menelan.
Sistem enzim penceranaan bayi dengan gestasi lebih
dari 28 minggu sudah cukup matur untuk mencernakan dan mengabsorbsi protein dan
karbohidrat. Lemak kurang dapat diabsorbsi karena kurangnya garam empedu. Lemak dari ASI dan lemak tidak
jenuh lebih mudah diabsorbsi dibandingkan dengan lemak susu sapi. Kenaikan
barat badan bayi yang berat lahirnya kurang dari 2100 gram harus cukup baik
bila diberikan ASI.
Susu formula dengan kadar protein tinggi dapat
meyebabkan :
a.
Aminogram plasma
yang tidak normal.
b.
Konsentrasi
nitrogen urea, amnomia, dan natrium dalam darah meningkat.
c.
Asidosis
metabolic ( formula susu sapi )
d.
Perkembangan
saraf yang tidak baik.
Walaupun jumlah susu formula telah cukup
mengandung semua vitamin yang diperlukan untuk pertumbuhan, akan tetapi volume
susu yang cukup untuk memenuhi kebetuhan belum tentu dapat memenuhi kebutuhan
vitamin dalam bebarapa minggu. Oleh sebab itu bayi BBLR harus diberi tambahan
vitamin. Selain itu beberapa bayi memerlukan jenis vitamin ertentu dan
sebagian metabolism fenilalanin atau
tirosin memerlukan vitamin C.
C.
PEMBERIAN MINUMAN BAGI BBLR
Pemberian
minum bagi bayi berat lahir rendah ( BBLR ) MENURUT berat badan lahir dan
keadaan bayi adalah sebagai berikut :
a.
Berat lahir 1750
– 2500 gram.
1.
Bayi sehat.
(a)
Biarkan bayi
menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi kecil lebih mudah merasa letih
dan malas minum, ajurkan bayi menyusu lebih sering ( contoh setiap 2 jam ) bila
perlu.
(b)
Pantau pemberian
minum dan kenaikan berat badan untuk menilai efektifitas menyusui. Apabila
bayi kurang dapat menghisap, tambahkan
ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
2.
Bayi sakit
(a)
Apabila bayi
dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan intravena ( IV ), berikan
minum seperti pada bayi sehat.
(b)
Berikan cairan
intravena hanya selama 24 jam pertama.
(c)
Mulai diberikan
minum per oral pada hari ke 2 atau segera setelah bayi stabil. Anjurkan
pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi menunjukkan tanda tanda siap untuk
menyusu.
b.
Berat lahir 1500
– 1749 gram
1.
Bayi sehat
(a)
Berikan ASI
peras dengan cangkir / sendok. Bila jumlah yang dibutuhkan tidak dapat berikan
menggunakan cangkir / sendok atau ada resiko terjadi aspirasi ke dalam paru (
batuk atau tersedak ), berikan minum dengan pipa lambung.
(b)
Berikan minum 8
kali dalam 24 jam ( misal setiap 3 jam ).
(c)
Apabila bayi
telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir / sendok, coba untuk menyusui
langsung.
2.
Bayi sakit
1.
Berikan cairan
intravena hanya 24 jam pertama.
2.
Berikan ASI
peras dengan pipa lambung mulai dari hari ke 2 dan kurangi jumlah cairan IV
secara perlahan.
3.
Berikan minum 8
kali dalam 24 jam.
4.
Lanjutkan
pemberian minum menggunakan cangkir / sendok apabila kondisi bayi sudah stabil
dan bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak.
5.
Apabila bayi telah
mendapatkan minum baik menggunakan cangkir / sendok, coba untuk menyusui
langsung.
c.
Berat lahir 1250
– 1499 gram
1.
Bayi sehat
(a)
Beri ASI peras
melalui pipa lambung.
(b)
Beri minum 8
kali dalam 24 jam.
(c)
Lanjutkan
pemberian minum menggunakan cngkir / sendok.
(d)
Apabila bayi
telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir / sendok, coba untuk menyusui
langsung.
2.
Bayi sakit
(a)
Bari cairan IV
hanya 24 jam pertama
(b)
Beri ASI peras
dengan pipa lambung mulai hari ke 2 dan kurangi jumah cairan IV secara
perlahan..
(c)
Berikan minum 8
kali dalam 24 jam.
(d)
Lanjutkan
pemberian minum menggunakan cangkir / sendok apabila kondisi bayi sudah stabil
dan bayi dapat meelan tanpa batuk atau tersedak.
(e)
Apabila bayi
telah mendapatkan minum baik menggunakan sendok / cangkir, coba ntuk menyusui
langsung.
PENCEGAHAN BBLR
Menurut Pantiawati ( 2010 ), pada kasus BBLR
pecegahan / preventif adala langkah yang penting :
1.
Meningkatkan
pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun waktu
kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga
beresiko, turatama faktor resiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat
dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih
mampu.
2.
Penyuluhan
kesehatan tentang pertumbhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda tanda
bahaya selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang
dikandung dengan baik.
3.
Hendaknya ibu
dpaat merencanakan persalinnya pada umur reproduksi sehat ( 20 – 35 Tahun ).
Perlu dukungan sektor lain terkait untuk turut
berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu da status ekonomi keluarga agar
mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan
status gizi ibu selama hamil.
TIPS PERAWATAN
BAYI BBLR BAGI AYAH DAN IBU
Sebagian besar orang tua seringkali
merasa belum siap menghadapi kelahiran prematur pada bayi mereka. Sehingga
mereka perlu diberikan pengarahan serta pendidikan kesehatan manakala merawat
bayi mereka yang lahir prematur. Anyak keadaan yang membuat para orang tua
merasa stress ketika harus menghadapi kelahiran ini. Disamping itu karena
kurangnya pengetahuan mereka tentang bagaimana cara merawat bayi pematur,
sehingga yang sering terjadi mereka berusaha untuk beradaptasi dan mengikuti
apa yang dilakukan oleh tim medis yang ikut membantu merawat bayi mereka selama
di rumah sakit. Berikut ini beberapa hal yang sebaiknya diketahui dan dilakukan
oleh para orang tua dalam merawat bayi prematur mareka :
a.
Pekerjaan baby
sitter profesional jika anda membutuhkan bantuan merawat bayi dirumah –
khususnya jika anda masih harus membawa pulang alat alat medis.
b.
Buatlah rumah
lebih hangat, kira kira 22,2 º Celcius selama minggu minggu pertama bayi
dirumah. Mekanisme pengaturan suhu tubuh bayi prematur biasanya mulai berfungsi
saat mereka pulang kerumah, tetapi kemungkinan mereka mengalami kesulitan
mempertahankan kenyamanan.
c.
Guankan popok
khusus bayi prematur.
d.
Sterilkan
perlengkapan makannya, khususnya jika ia peka terhadap infeksi. Rebus dulu
mangkk dan sendok untuk ASI perahnya.
e.
Sering memberi
makan bayi, meski anda harus menghabiskan waktu untuk menyusuinya.
f.
Lakukan
pemberian ASI ekslusif.
g.
Meski
membutuhkan perawatan ekstra, tetaplah perlakukan bayi seperti bayi normal
dalam hal pemberian rangsangan bagi indera, motorik, dan perkembangan
psikososialnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar