Sabtu, 30 Mei 2015

kala III Persalinan



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Salah satu penyebab masih tingginya angka kematian ibu di indonesia sekitar 307 per 100.000 kelahiran hidup adalah perdarahan, baik itu pada masa nifas. Perdarahan postpartum merupakan penyebab sekitar 30 % dari keseluruhan kematian akibat perdarahan.
Sebenarnya perdarahan postpartum dapat diturunkan dengan penanganan yang optimal dari tenaga kesehatan. Akan tetapi, dalam menurunkan angka kejadian perdarahan postpartum akibat perdarahan perdarahan tidak hanya mengurangi resiko kematian ibu, tetapi juga menghindarkannya dari resiko kesakitan yang berhubungan dengan perdarahan postpartum seperti reaksi transfusi, tindakan operatif, dan infeksi. Jadi, yang menjadi titik utama adalah keterampilan dari petugas dalam menangani kejadian perdarahan postpartum.
Pemantauan dilakukan pada ibu pascapersalinan dan mempersiapkan diri akan adanya kejadian postpartum merupakan tindakan yang sangat penting. Meskipun beberapa faktor di indikasikan dapat meningkatkan resiko perdarahan persalinan, dua pertiga dari semua kasus perdarahan pasca persalinan terjadi pada ibu tanpa faktor resiko yang diketahui sebelumnya dan tidak mungkin memperkirakan ibu mana yang mengalami perdarahan pasca persalinan. Oleh karena alasan tersebut, ,maka manajemen aktif kala III merupakan hal yang sangat penting dalam upaya menurunkan kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan perdarahan pasca persalinan. Hal itu membuat WHO merekomendasikan agar semua tenaga kesehatan yang menolong persalinan baik dokter maupun bidan dapat melaksanakan manajemen aktif kala III.
B.     Rumusan Masalah
a.       Bagaimana pemantauan kala III pada ibu bersalin ?
b.      Bagaimana pendokumentasian kala III pada ibu bersalin ?

C.    Tujuan Penulisan
a.       Agar mahasiswa mengetahui pemantauan kala III ibu bersalin.
b.      Agar mahasiswa mengetahui pendokumentasian kala III ibu bersalin.


























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Fisiologi kala III Pada Persalinan
Kala III dimulai sejak bayi lahir sampai lahirnya plasenta/uri. Rata-rata lama kala III berkisar 15-30 menit, baik dari primipara maupun multipara. Tempat implantasi plasenta sering pada dinding depan dan belakang korpus uteri atau dinding lateral. Sangat jarang terdapat pada fundus uteri. Bila bterletak pada sekmen bawah rahim/SBR, keadaan ini disebut plasenta previa. (Samarah, 2010)
Kala III merupakan priode waktu dimana penyusutan volume rongga uterus setelah kelahiran bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlengketan plasenta. Oleh karena tempat perlengketan menjadi kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah, maka plasenta menjadi berlipat, menebal, dan kemudian lepas dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta akan turun kebagian bawah uter, atau kedalm vagina.( Rohani, 2011)
B.      KEBUTUHAN IBU BERSALIN PADA KALA III
Ibu pada  kala ini secara fisik mengalami suatu keadaan yang lelah setelah proses persalinan, terlebih lagi pada primipara dimana kala I persalinannya cukup memakan waktu yang lama. Ibu membutuhkan rasa nyaman dan tenang untuk istirahat. Selain itu, nutrisi dan cairan juga sangat penting untuk mengembalikan energi dan kondisi ibu setelah proses persalinan.
Secara psikologis ibu pada saat ini merasakan kebahagian dan perasaan senang karena bayinya telah lahir. Ibu membutuhkan kedekatan dengan bayinya dan perhatian dari orang yang ada didekatnya untuk membantu agar ia dapat memeluk ataupun mendekap bayinya. ( Rohani,2011)
Kebutuhan ibu pada kala III
1.      Dukungan mental dari bidan dan keluarga atau pendamping.
2.      Penghargaan terhadap proses kelahiran janin yang telah dilalui.
3.      Informasi yang jelas mengenai keadaan pasien sekarang dan tindakan apa yang dilakukan.
4.      Penjelasan mengenai apa yang harus ia lakukan untuk membantu mempercepat kelahiran plasenta, yaitu kapan saat meneran dan posisi apa yang mendukung untuk pelepasan dan kelahiran plasenta.
5.      Bebas dari rasa risih akibat bagian bawah yang basah oleh darah dan air ketuban.
6.      Hidrasi. ( Ari Sulistiyawati, 2010 )
Kebutuhan Ibu kala III
1.      Ketertarikan ibu pada bayi
Ibu mengamati bayinya, menanyakan apa jenis kelaminnya, jumlah jari jari dan mulai menyentuh bayi.
2.      Perhatian pada dirinya
Bidan perlu menjelaskan kondisi ibu, perlu penjahitan atau tidak, bimbingan tentang kelanjutan tindakan dan perawatan ibu.
3.      Tertarik plasenta
Bidan menjelaskan kondisi plasenta, lahir lengkap atau tidak. (sumarah, 2010)
Penatalaksanaan aktif kala III bagi semua ibu melahirkan yaitu : pemberian oksitosin, penegangan tali pusat, masase uterus setelah segera lahir agar tetap berkontraksi; pemeriksaan rutin, plasenta dan selaput ketubannya: pemeriksaan rutin pada vagina dan perineum untuk mengetahui adanya laserasi dan luka; pemberian hidrasi pada ibu, pencegahan infeksi, dan menjaga privasi. ( Ai yeyeh Rukiyah, 2009)
C.    Pendokumentasian kala III
Hal hal yang perlu di catat selama kala III sebagai berikut :
1.      Lama kala III
2.      Pemberian oksitosin berapa kali.
3.      Bagaimana pelaksanaan penegangan tali pusat terkendali /
4.      Perdarahan.
5.      Kontraksi uterus.
6.      Adakah laserasi jalan lahir.
7.      Vital sign ibu.
8.      Keadaan bayi baru lahir. ( sumarah, 2010 )
Pendokumentasian pada Kala III
Semua asuhan dan tindakan yang dilakukan haruslah didokumentasikan dengan baik dan benar. Pada pendokumentasian di kala III ini pencatatan dilakukan pada lembar belakang partograf ( catatan persalinan pada poin kala III ) dan pada catatan lain yang tersedia di instusi pelayanan.
Data untuk kala III terdiri atas lamanya kala III, pemberian oksitosin, peregangan tali pusat terkendali, rangsangan fundus, kelengkapan plasenta saat lahir, retensi plasenta yang lebih dari 30 menit, laserasi, atonia uteri, jumlah perdarahan, masalah lain, penatalaksanaan dan hasilnya. Isi jawaban yang sesuai. Untuk no 25,26, dan 28 lingkari jawaban yang benar.

Informasi untuk kala III adalah sebagai berikut ( format partograf bagian belakang)
20. Lama kala III.....................................................................menit
21. Pemberian oksitosin 10 IU IM
      Ya, waktu..............................menit sesudah kelahiran
       Tidak, alasannya..................
22. pemberian ulang oksitosin (2x)
      Ya, alasan.......................
       Tidak
23. penanganan tali pusat terkendali?
      Ya,
       Tidak, alasan...................
24. masase fundus uteri?
       Ya,
       Tidak, alasan................................
25. plasenta lahir lengkap (intact) ya/tidak
                        Jika tidak lengkap, tindakan apa yang dilakukan:
a.       ...........................
b.      ...............................
   26. plasenta tidak lahir >30 menit: ya/tidak
                        Ya,  tindakan yang dilakukan
a.       ..................
b.      ...................
         27. Laserasi
                        Ya, dimana.....................................
                         Tidak
         28. Jika laserasi perineum derajat 1/2/3/4
                    Tindakan
                    Penjahitan dengan/tanpa anastesi
                    Tidak dijahit, alasan.................................
          29. Atonia uteri :
                    Ya, tindakan yang dilakukan :
                      a..............................................................
                      b..............................................................
                      c..............................................................
                    Tidak
         30. Jumlah perdarahan..........................................
         31. Masalah lain sebutkan.....................................
         32. Penatalaksanaan masalah tersebut...................
         33. Hasilnya..........................................................


                             





















Asuhan kebidanan internal kala III
Subjektif :
Ibu mengatakan perutnya terasa mulas dan merasa lelah.
Objektif    :
1.      Keadaan umum baik. Kesadaraan compos mentis
2.      Pemeriksaan abdomen : TFU 2jari di atas pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong.
3.      Pemeriksaan genetalia : vulva / vagina tidak ada kelainan, tali pusat memanjang di depan vulva, terdapat pengeluaran darah sekonyong-konyong.
4.      Pemeriksaan penunjang : HB 11,5 gram %
Assesment            :
Diagnosa : P1A0 Parturien Aterm Kala III
Dasar                     :
1.      Ibu mengatakan perutnya merasa mulas dan merasa lelah
2.      Keadaan umum baik. Kesadaran compos mentis
3.      Pemeriksaan abdomen : TFU 2jari di atas pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong.
4.      Pemeriksaan genetalia : vulva / vagina tidak ada kelainan, tali pusat memanjang di depan vulva, terdapat pengeluaran darah sekonyong-konyong.
5.      Pemeriksaan penunjang : HB 11,5 gram %
Masalah                 : kelelahan
Diagnosa potensial            : -
Tindakan segera    : -
Kebutuhan                        : management aktif  kala III
Planning   :
Jam 20.37 WIB 
Melaksanakan manajemen aktif kala III, meliputi :
-          Memastikan janin tunggal dengan cara mengejek fundus uteri
-          Melakukan suntikan oksitosin 10 UI secara Intra Muskuler segera memberi tahu ibu terlebih dahulu.

Jam 14.23 WIB
Melakukan peregangan tali pusat terkendali dan mengeluarkan plasenta dengan hati-hati secara dorsalkranial.
·         Plasenta lahir spontan jam
Jam 14.24 WIB
Melakukan masase fundus uteri selama 15 detik. Dan menganjurkan keluarga untuk memberikan minuman kepada ibu serta menjelaskan pada ibu bahwa mules yang di alami adalah normal.
·         Kontraksi uterus baik dan ibu sudah minum setengah gelas air putih.
Jam 14.25 WIB
Memeriksa kelengkapan plasenta
·         Plasenta lengkap dengan diameter 15 cm, tebal 2 cm, tali pusat lebih kurang dari 50 Cm




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ibu pada  kala III secara fisik mengalami suatu keadaan yang lelah setelah proses persalinan, terlebih lagi pada primipara dimana kala I persalinannya cukup memakan waktu yang lama. Ibu membutuhkan rasa nyaman dan tenang untuk istirahat. Selain itu, nutrisi dan cairan juga sangat penting untuk mengembalikan energi dan kondisi ibu setelah proses persalinan.
B.     Saran
Dari makalah yang telah dibuat oleh penulis maka penulis menyarankan kepada pembaca terutama tenaga kesehatan bidan agar mengetahui apa saja kebutuhan iu pada masa kala III dan pendokumentasian kala III.
















DAFTAR PUSTAKA
Hidayat,Asri dan sujiantini. 2010. Asuhan kebidanan persalinan. Yogyakarta: Nuha medika.
Rukiyah, Ai yeyeh.dkk. 2009. Asuhan kebidanan 2 (persalinan). Jakarta : CV Trans Info Media.
Asrinah,dkk. 2010. Asuhan kebidanan masa bersalin. Yogyakarta. Graha ilmu.
Sumarah,dkk. 2010. Perawatan ibu bersalin. Yogyakarta. Fitramaya.
Sulistyawati,Ari dan Esti nugraheny. 2012. Asuhan kebidanan pada ibu bersalin. Jakarta: salemba medika.



Kamis, 21 Mei 2015

PERAWATAN METODE KANGURU UNTUK BAYI BARU LAHIR RENDAH



PERAWATAN METODE KANGURU UNTUK BAYI BARU LAHIR RENDAH
A.     Pengertian
salah satu cara untuk mengurangi kesakitan dan kematian BBLR adalah dengan Perawatan Metode Kanguru ( PMK ) atau perawatan bayi lekat yang ditemukan sejak tahun 1983. PMK adalah perawatan bayi baru lahir dengan melekatkan bayi di dada ibu ( kontak kulit bayi dan kulit ibu ) sehingga suhu tubuh bayi tetap hangat. Perawatan metode ini sangat menguntungkan terutama unuk bayi baru lahir rendah.
Gambar Metode Kanguru








            Syarat PMK adalah bayi berat lahir rendah yang stabil ( sudah bernafas spontan dan tidak memiliki masalah kesehatan serius ). Tanda tanda bayi berat lahir rendah (BBLR) yang memerlukan PMK adalah sebagai berikut :
1.      Tubuh bayi dingin ( suhu badan dibawah 36,5 ยบ Celcius ).
2.      Bayi menjadi gelisah, mudah terangsang, lesu dan tidak sadarkan diri, demam ( suhu ubuh diatas 37,5 ยบ Celcius ).
3.      Bayi malas menyusu, tidak minum dengan baik, muntah muntah.
4.      Bayi kejang.
5.      Mengalami kesulitan bernafas, yaitu napas cepat ( lebih dari 60 kali per menit dan mengalami berhenti bernafas selama 20 detik.
6.      Diare atau mencret.
7.      Kulit tampak kuning atau biru, terutama pada mulut / bibir bayi.
8.      Menunjukkan gejala lain yang mengkhawatirkan.


B.     Keuntungan dan Manfaat PMK
Keuntungan dan manfaat PMK adalah suhu tubuh bayi tetap normal, mempercepat pengeluaran air susu ibu ( ASI ) dan meningkatkan keberhasilan menyusui, perlindungan bayi dari infeksi, berat badan bayi cepat naik, stimulasi dini, kasih sayang, mengurangi biaya rumah sakit karena waktu perawatan yang pendek, tidak memerlukan inkubator dan efisiensi tenaga kesehatan.

C.     Perawatan Metode Kanguru
Perawatan Metode Kanguru dibagi menjadi dua :
1.      PMK intermiten, yaitu PMK dengan jangka waktu yang pendek ( Perlekatan lebih dari satu jam per hari ) dilakukan saat ibu berkunjung. PMK ini diperuntukkan bagi bayi dalam proses penyembuhan yang masih memerlukan pengobatan medis ( infus, oksigen ). Tujuan PMK intermiten adalah untuk perlindungan bayi dari infeksi.
2.      PMK kontinu, yaitu PMK dengan jangka waktu yang lebih lama dari pada PMK intermiten. Pada metode ini perawatan bayi dilakukan selama 24 jam sehari.

D.    Tahap Tahap PMK
Tahap Tahap PMK adalah sebagai berikut :
1.      Cuci tangan, keringkan dan gunakan gel hand rub.
2.      Ukur suhu bayi dengan termometer.
3.      Pakaikan baju kanguru pada ibu.
4.      Bayi dimasukkan dalam posisi kanguru, menggunakan topi, popok dan kaus kaki yang telah dihangatkan lebih dahulu.
5.      Letakkan bayi di dada ibu, dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisika bayi dengan siku dan tungkai siku dan tungkai tertekuk, kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepal agak sedikit mendongak.
6.      Dapat pula ibu memakai baju dengan ukuran besar, dan bayi diletakkan di antara payudara ibu, baju ditangkupkan, kemudian ibu memakai selendang yang dililitkan di perut ibu agar bayi tidak jatuh.
7.      Setelah posisi bayi baik, baju kanguru diikat untuk menyangga bayi. Selanjutnya ibu bayi dapat beraktifitas seperti biasa sambil membawa ayinya dalam posisi tegak lurus di dada ibu ( skin to skin contact) seperti kanguru.
MAKANAN BAYI BBLR
A.     AIR SUSU IBU
ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, begitupun bagi bayi dengan BBLR. Bayi bayi kecil biasanya belum mampu mengisap dengan baik karena itu pemberian minumnya berupa ASI atau susu formula khusus untuk BBLR bila ASI ibu belum keluar dilakukan melalui pipa lambung dan diberikan secara bertahap sampai jumlah kebutuhannya terpenuhi. Yang perlu diperhatikan tentang aktivitas menyusui pada kasus kasus bayi yang lahir prematur ataupun yang memiliki berat badan yang rendah adalah kondisi si bayi tersebut, apakah harus dipisahkan terlebih dahulu oleh ibunya atau tidak.
Bila harus dipisahkan, maka faktor yang penting agar proses menyusui tersebut berjalan dengan sukses, maka perlu peran kolaborasi antara tim perawatan neonatal dengan ibu si bayi itu sendiri, yaitu dengan melalui proses manajemen laktasi.
Ada beberapa manajemen yang perlu dilakukan dalam kondisi pisahnya antara ibu dan anak, dan ini harus dilakukan bahkan saat sebelum si ibu melahirkan. Ibu diharapkan memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara memompa ASI yang dilakukan sekitar setiap tiga jam sekali selama 7-5-3 menit dalam posisi bergantian, tiap tetes ASI harus dibawa ke intesive station, kontak kulit antara si ibu dan anak melalui model kanguru, tidak diperbolehkannya penggunaan pting buatan, dan lain lain.
Yang harus dicegah pada pemberian minum pada bayi BBLR adalah kelelahan, regurgitasi, dan aspirasi. Biasanya keadaan tersebut dapat dicegah bila pemberian minum dilakukan oleh perawatan yang sudah terlatih dan berpengalaman. Makanan melalui mulut harus dihentikan pada bayi dnegan gawat nafas, hipoksia, sirkulasi yang tidak memuaskan, sekresi yang berlebihan, sepsis, depresi susunan saraf pusat, imaturitas atau bayi dengan tanda penyakit berat. Bayi dengan kondisi demikian memerlukan pengobatan parental untuk mendapatkan kalori, cairan dan elektrolit.
Perubahan minum dengan botol atau ASI dilakukan secara bertahap, selanjutnya diberikan sepenuhnya susu botol atau ASI bila bayi cukup kuat mengisap dan tidak tampak lelah. Pemberian makanan melalui pipa ke lambung hanya dianjurkan pada bayi BBLR bila kebutuhan kalori melalui botol / ASI tidak terpenuhi karena daya isap lemah, tidak ada koordinasi antara mengisap dengan menelan, dan lambatnya pengosongan lambung. Komplikasi pemberian makanan dengan pipa ke  lambung adalah perforasi usus.
B.     MAKANAN PERTAMA
Prinsip utama pemberian makanan pada bayi premature adalah sedikit demi sedikit, secara perlahan dan hati hati. Pemberian makanan ini berupa glukosa, ASI atau PASI akan mengurangi risiko hipoglikemia, dehidrasi dan hiperbilirubunemia. Bayi dengan sindrom gawat nafas atau penyakit berat lainnya harus mendapatkan kalori dari pemberian makanan, elektrolit dan cairan melalui pembuluh darah karena pada keadaan demikian makanan melalui pembuluh darah karena pada keadaan demikian makanan melalui mulut memudahkan terjadinya aspirasi. Bayi yang daya isapnya kuat dan tanpa sakit berat dapat dicoba minum melalui mulut. Umumnya bayi dengan BB kurang dari 1500 gram dan kebanyakan juga lebih besar memerlukan minum pertama dengan pipa lambung karena belum adanya koordinasi antara gerakan menghisap dan menelan.
Sistem enzim penceranaan bayi dengan gestasi lebih dari 28 minggu sudah cukup matur untuk mencernakan dan mengabsorbsi protein dan karbohidrat. Lemak kurang dapat diabsorbsi karena kurangnya  garam empedu. Lemak dari ASI dan lemak tidak jenuh lebih mudah diabsorbsi dibandingkan dengan lemak susu sapi. Kenaikan barat badan bayi yang berat lahirnya kurang dari 2100 gram harus cukup baik bila diberikan ASI.
Susu formula dengan kadar protein tinggi dapat meyebabkan :
a.       Aminogram plasma yang tidak normal.
b.      Konsentrasi nitrogen urea, amnomia, dan natrium dalam darah meningkat.
c.       Asidosis metabolic ( formula susu sapi )
d.      Perkembangan saraf yang tidak baik.
Walaupun jumlah susu formula telah cukup mengandung semua vitamin yang diperlukan untuk pertumbuhan, akan tetapi volume susu yang cukup untuk memenuhi kebetuhan belum tentu dapat memenuhi kebutuhan vitamin dalam bebarapa minggu. Oleh sebab itu bayi BBLR harus diberi tambahan vitamin. Selain itu beberapa bayi memerlukan jenis vitamin ertentu dan sebagian  metabolism fenilalanin atau tirosin memerlukan vitamin C.
C.     PEMBERIAN MINUMAN BAGI BBLR
Pemberian minum bagi bayi berat lahir rendah ( BBLR ) MENURUT berat badan lahir dan keadaan bayi adalah sebagai berikut :
a.       Berat lahir 1750 – 2500 gram.
1.      Bayi sehat.
(a)    Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi kecil lebih mudah merasa letih dan malas minum, ajurkan bayi menyusu lebih sering ( contoh setiap 2 jam ) bila perlu.
(b)   Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai efektifitas menyusui. Apabila bayi  kurang dapat menghisap, tambahkan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
2.      Bayi sakit
(a)    Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan intravena ( IV ), berikan minum seperti pada bayi sehat.
(b)   Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama.
(c)    Mulai diberikan minum per oral pada hari ke 2 atau segera setelah bayi stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi menunjukkan tanda tanda siap untuk menyusu.
b.      Berat lahir 1500 – 1749 gram
1.      Bayi sehat
(a)    Berikan ASI peras dengan cangkir / sendok. Bila jumlah yang dibutuhkan tidak dapat berikan menggunakan cangkir / sendok atau ada resiko terjadi aspirasi ke dalam paru ( batuk atau tersedak ), berikan minum dengan pipa lambung.
(b)   Berikan minum 8 kali dalam 24 jam ( misal setiap 3 jam ).
(c)    Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir / sendok, coba untuk menyusui langsung.
2.      Bayi sakit
1.      Berikan cairan intravena hanya 24 jam pertama.
2.      Berikan ASI peras dengan pipa lambung mulai dari hari ke 2 dan kurangi jumlah cairan IV secara perlahan.
3.      Berikan minum 8 kali dalam 24 jam.
4.      Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir / sendok apabila kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak.
5.      Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir / sendok, coba untuk menyusui langsung.
c.       Berat lahir 1250 – 1499 gram
1.      Bayi sehat
(a)    Beri ASI peras melalui pipa lambung.
(b)   Beri minum 8 kali dalam 24 jam.
(c)    Lanjutkan pemberian minum menggunakan cngkir / sendok.
(d)   Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir / sendok, coba untuk menyusui langsung.
2.      Bayi sakit
(a)    Bari cairan IV hanya 24 jam pertama
(b)   Beri ASI peras dengan pipa lambung mulai hari ke 2 dan kurangi jumah cairan IV secara perlahan..
(c)    Berikan minum 8 kali dalam 24 jam.
(d)   Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir / sendok apabila kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat meelan tanpa batuk atau tersedak.
(e)    Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan sendok / cangkir, coba ntuk menyusui langsung.







PENCEGAHAN BBLR
Menurut Pantiawati ( 2010 ), pada kasus BBLR pecegahan / preventif adala langkah yang penting :
1.      Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun waktu kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga beresiko, turatama faktor resiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu.
2.      Penyuluhan kesehatan tentang pertumbhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik.
3.      Hendaknya ibu dpaat merencanakan persalinnya pada umur reproduksi sehat ( 20 – 35 Tahun ).
Perlu dukungan sektor lain terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu da status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.








TIPS PERAWATAN BAYI BBLR BAGI AYAH DAN IBU
Sebagian besar orang tua seringkali merasa belum siap menghadapi kelahiran prematur pada bayi mereka. Sehingga mereka perlu diberikan pengarahan serta pendidikan kesehatan manakala merawat bayi mereka yang lahir prematur. Anyak keadaan yang membuat para orang tua merasa stress ketika harus menghadapi kelahiran ini. Disamping itu karena kurangnya pengetahuan mereka tentang bagaimana cara merawat bayi pematur, sehingga yang sering terjadi mereka berusaha untuk beradaptasi dan mengikuti apa yang dilakukan oleh tim medis yang ikut membantu merawat bayi mereka selama di rumah sakit. Berikut ini beberapa hal yang sebaiknya diketahui dan dilakukan oleh para orang tua dalam merawat bayi prematur mareka :
a.       Pekerjaan baby sitter profesional jika anda membutuhkan bantuan merawat bayi dirumah – khususnya jika anda masih harus membawa pulang alat alat medis.
b.      Buatlah rumah lebih hangat, kira kira 22,2 ยบ Celcius selama minggu minggu pertama bayi dirumah. Mekanisme pengaturan suhu tubuh bayi prematur biasanya mulai berfungsi saat mereka pulang kerumah, tetapi kemungkinan mereka mengalami kesulitan mempertahankan kenyamanan.
c.       Guankan popok khusus bayi prematur.
d.      Sterilkan perlengkapan makannya, khususnya jika ia peka terhadap infeksi. Rebus dulu mangkk dan sendok untuk ASI perahnya.
e.       Sering memberi makan bayi, meski anda harus menghabiskan waktu untuk menyusuinya.
f.        Lakukan pemberian ASI ekslusif.
g.       Meski membutuhkan perawatan ekstra, tetaplah perlakukan bayi seperti bayi normal dalam hal pemberian rangsangan bagi indera, motorik, dan perkembangan psikososialnya.